Beritabanten.com – Aula sederhana di Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, menggema dengan suara antusias anak muda. Sebagian sibuk mengatur komposisi gambar melalui layar ponsel, yang lain berdebat soal sudut pengambilan video terbaik.
Pada Selasa siang, 5 Mei 2026, pelatihan videografi yang digelar Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau Pemkot Tangsel menjelma lebih dari sekadar kelas teknis, ia menjadi ruang tumbuh bagi ambisi baru generasi muda.
Pelatihan ini bukan program yang lahir tiba-tiba. Ia berakar dari usulan Karang Taruna setempat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) setahun sebelumnya.
Dari forum yang kerap dianggap formal dan jauh dari denyut anak muda, justru muncul gagasan yang kini terasa relevan: membekali keterampilan digital di tengah arus ekonomi kreatif yang kian deras.
Selama dua hari, sekitar 50 peserta diajak menyelami proses produksi konten digital secara utuh. Mereka tidak hanya belajar soal teknik pengambilan gambar, tetapi juga penyuntingan video hingga merancang strategi kreatif agar konten memiliki daya jangkau.
Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama memandang gawai bukan sekadar alat hiburan, melainkan instrumen produktif.
Lurah Pondok Karya, Hendy Apriansyah, melihat potensi besar dari pelatihan semacam ini.
Di wilayahnya, aktivitas warga sebenarnya kaya cerita, dari kerja bakti, perlombaan olahraga, hingga geliat pelaku usaha kecil. Namun, tanpa kemampuan mengemasnya dalam bentuk visual yang menarik, banyak cerita itu berhenti di lingkup lokal.
Harapannya sederhana, tetapi tidak kecil: lahirnya kreator konten baru yang mampu mengangkat wajah kampungnya sendiri. Bahkan, lebih jauh, keterampilan ini bisa berkembang menjadi peluang ekonomi.
Jasa pembuatan konten dan promosi digital kini semakin dibutuhkan, terutama oleh pelaku usaha kecil yang ingin menjangkau pasar lebih luas.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Pondok Aren, Andyka Prasetya, menangkap peluang itu sekaligus melihat celah yang perlu diisi.
Menurut dia, pelatihan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pendampingan berkelanjutan, mulai dari proses produksi hingga distribusi konten. Tanpa itu, keterampilan yang sudah diajarkan berisiko menguap begitu saja.
Ia juga menyoroti potensi kuliner lokal yang melimpah di Pondok Karya. Dengan sentuhan promosi digital yang tepat, usaha-usaha kecil ini bisa naik kelas. Konten video, dalam konteks ini, bukan sekadar estetika, tetapi alat penggerak ekonomi.
Program ini menjadi bagian dari skema F1 Musrenbang Pemerintah Kota Tangerang Selatan, yang menekankan pendekatan langsung ke masyarakat. Di tengah berbagai program pembangunan fisik, pelatihan seperti ini menunjukkan arah lain: investasi pada manusia.
Di akhir sesi, beberapa peserta masih bertahan, mencoba ulang teknik yang baru dipelajari. Ada yang mengulang pengambilan gambar, ada pula yang sibuk menyunting video pertama mereka. Tidak ada yang benar-benar ingin segera pulang.
Ruang kecil itu memberi harapan besar perlahan disusun dengan frame demi frame untuk kemajuan anak muda Tangsel. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan