Betitabanten.com – Hamparan ladang jagung di Nusa Tenggara Barat pada Kamis pagi pekan lalu, tampak seperti lautan emas yang bergoyang pelan diterpa angin. Di antara deretan tanaman yang menjulang setinggi dada orang dewasa, para petani bergerak cekatan dari memetik, mengupas, dan mengumpulkan hasil kerja berbulan-bulan dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa lega.
Hari itu bukan sekadar panen biasa. Sebanyak 400 ton jagung dipanen dalam satu momentum yang menjadi penanda: upaya memperkuat ketahanan pangan bukan lagi sekadar wacana, tetapi sedang benar-benar tumbuh dari tanah.
Program ini digerakkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), yang beberapa tahun terakhir semakin aktif mengarahkan dana zakat ke sektor produktif. Jagung dipilih bukan tanpa alasan. Selain adaptif terhadap kondisi lahan NTB yang kering, komoditas ini juga memiliki pasar yang stabil—baik untuk kebutuhan pangan maupun pakan ternak.
“Dulu lahan ini banyak yang menganggur,” kata seorang petani sambil menepuk karung hasil panennya. “Sekarang bisa panen begini, rasanya seperti mimpi.”
Pendekatan yang digunakan bukan sekadar bantuan sesaat. BAZNAS masuk dari hulu ke hilir: menyediakan bibit unggul, pelatihan budidaya, pendampingan teknis, hingga akses pemasaran. Para petani tidak lagi berjalan sendiri. Mereka menjadi bagian dari ekosistem yang saling menopang.
Di sisi lain, program ini juga menjawab tantangan klasik di wilayah tersebut—ketergantungan pada musim dan minimnya akses modal. Dengan skema berbasis zakat produktif, para petani bisa memulai tanpa beban utang yang mencekik. Hasilnya, keuntungan yang didapat benar-benar kembali ke mereka dan komunitasnya.
Panen raya ini bukan hanya soal angka 400 ton. Ia adalah cerita tentang perubahan cara pandang: bahwa zakat tidak hanya berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Di tengah ketidakpastian global yang memengaruhi rantai pasok pangan, langkah seperti ini terasa semakin relevan. Ketahanan pangan tidak lagi bisa hanya bergantung pada impor atau kebijakan pusat. Ia harus tumbuh dari daerah, dari petani, dari tanah itu sendiri.
Sore menjelang, truk-truk mulai mengangkut jagung hasil panen. Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam, meninggalkan warna jingga yang menyelimuti ladang. Para petani masih bertahan, sebagian duduk beristirahat, sebagian lagi bercengkerama.
Panen telah usai, tetapi harapan justru baru dimulai. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan