Penulis: Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الْـحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ، الْقَوِيِّ الْجَبَّارِ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُخْتَارُ، إِمَامُ الْمُتَّقِينَ الْأَبْرَارِ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَخْيَارِ، مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. فَاتَّقُوْا الله لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Swt.,
Di antara keteladanan Nabi Muhammad Saw. yang sangat besar manfaatnya dan mudah kita teladani dalam kehidupan sehari-hari adalah Jabrul Khāthir. Keteladanan ini tampak sederhana, namun sesungguhnya mengandung nilai kemanusiaan dan spiritual yang amat agung.
Apa yang dimaksud dengan Jabrul Khāthir? Istilah ini bermakna kepekaan dan kepedulian terhadap perasaan orang lain, serta upaya untuk membahagiakan mereka yang sedang berduka atau terluka batinnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Khotib ingin menyampaikan sebuah kisah sarat hikmah yang dapat dijadikan teladan, tentang bagaimana Rasulullah Saw. menunjukkan kepekaan dan kasih sayangnya terhadap sesama. Kisah ini bukan tentang sahabat utama seperti Abu Bakar as-Siddiq atau Umar bin Khattab, melainkan tentang seorang sahabat dari pedalaman Arab, dari kalangan suku Badui, bernama Zahir bin Haram al-Asyja‘i.
Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik Ra. Zahir adalah seorang Badui yang kerap membawa hasil bumi dari desanya untuk dihadiahkan kepada Rasulullah Saw.
Sebaliknya, Rasulullah selalu membekalinya dengan barang-barang kebutuhan kota setiap kali ia pulang ke desanya. Suatu ketika Rasulullah bersabda:
زَاهِرٌ بَادِيَتُنَا، وَنَحْنُ حَاضِرُوهُ
“Zahir adalah ‘desa’ bagi kami, dan kami adalah ‘kota’ baginya.”
Dalam riwayat disebutkan bahwa Zahir bukanlah sosok yang rupawan (wa kāna damīman). Namun, Rasulullah tidak pernah menilai seseorang dari rupa atau penampilan lahiriahnya. Suatu hari, ketika Zahir sedang berdagang di pasar, Rasulullah datang dari belakang dan memeluknya erat hingga Zahir tidak mengetahui siapa yang memeluknya. Ia berkata:
أَرْسِلْنِي، مَنْ هَذَا؟
“Lepaskan aku! Siapa ini?”
Ketika menyadari bahwa yang memeluknya adalah Rasulullah, Zahir pun langsung merapatkan tubuhnya dengan penuh kasih ke dada Nabi. Rasulullah kemudian bersabda sambil bergurau:
مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْعَبْدَ؟
“Siapa yang mau membeli hamba sahaya ini?”
Zahir, dengan keluguan hatinya, menjawab lirih:
إِذًا وَاللَّهِ تَجِدُنِي كَاسِدًا
“Wahai Rasulullah, kalau aku dijual, niscaya aku ini barang yang tidak laku.”
Ucapan ini memantulkan keretakan hati seorang manusia yang merasa rendah diri. Namun Rasulullah tidak membiarkannya terpuruk. Beliau menambal hatinya yang retak itu dengan kalimat yang meneguhkan:
بَلْ أَنْتَ عِنْدَ اللَّهِ غَالٍ
“Tidak demikian, wahai Zahir. Engkau di sisi Allah amat berharga.”
Dalam satu kalimat, Rasulullah memulihkan harga diri sahabatnya, mengangkat martabatnya di hadapan orang banyak, dan menanamkan keyakinan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh rupa, harta, atau status sosial, melainkan oleh kedudukannya di sisi Allah Swt.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jabrul Khāthir juga diperlihatkan secara indah oleh sosok perempuan mulia, Sayyidah Khadijah al-Kubra Ra. Ketika Rasulullah Saw. menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau pulang dengan tubuh gemetar karena dahsyatnya pengalaman spiritual tersebut. Dalam keadaan cemas, beliau berseru kepada istrinya:
زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي
“Selimuti aku! Selimuti aku!”
Sayyidah Khadijah segera menyelimuti dan menenangkan beliau. Setelah rasa takut itu mereda, Rasulullah berkata dengan penuh kekhawatiran:
لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي
“Sungguh, aku khawatir terhadap diriku sendiri.”
Namun Khadijah tidak panik. Dengan keteguhan hati dan keyakinan mendalam, ia mengucapkan kalimat yang menjadi jabrul Khāthir paling indah dalam sejarah:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
“Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya!”
Khadijah yakin karena ia mengenal pribadi suaminya yang luhur. Ia tahu bahwa penanam kebaikan pasti akan menuai kebaikan, sebagaimana pepatah Arab:
زَارِعُ الْخَيْرِ يَحْصُدُهُ
“Penanam kebaikan, pasti akan menuainya.”
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Dalam Surah al-Ḍuḥā, Allah Swt. juga menunjukkan bagaimana Dia sendiri melakukan Jabrul Khāthir kepada Nabi-Nya:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى
Setelah Allah meneguhkan hati Nabi-Nya, Dia memerintahkan agar nikmat itu dibalas dengan empati:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Artinya, karena engkau pernah merasakan pedihnya menjadi yatim, maka janganlah engkau menghardik anak yatim. Karena engkau pernah merasa kekurangan, janganlah engkau membentak orang yang meminta.
Ayat ini mengajarkan rumus kehidupan: Ingatlah masa sulitmu, agar engkau dapat memuliakan orang yang sedang dalam kesulitan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa melapangkan kesusahan seorang muslim di dunia, Allah akan melapangkan kesusahannya di Hari Kiamat.”
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.”
وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ، سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa menutupi aib saudaranya di dunia, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.”
Dan Rasulullah menegaskan penutupnya:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan