Beritabanten.com – Sangat menarik ceramah dari Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI Rizaluddin Kurniawan yang berisi tentang motivasi pengumpulan zakat di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan beberapa waktu lalu.
Intinya adalah semangat memberikan yang terbaik dan bermanfaat harus menjadi motivasi para pengumpul zakat, yang biasa disebut amil zakat, akan berpengarug banyak pada pengelolaan zakat di tanah air.
Bagi saya hal tersebut selaras dengan hadis yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58).
Apabila melihat hadist di atas maka standar kebaikan seorang Muslim adalah tidak hanya shalih secara pribadi, tetapi juga berusaha memberikan dampak positif dan manfaat kepada orang lain.
Manfaat dalam konteks hadist ini adalah segala bentuk kebaikan yang bisa diberikan kepada orang lain baik materi maupun non materi.
Rasulullah mengajarkan untuk memudahkan urusan orang lain, menghilangkan kesulitan mereka dan memberikan rasa aman dan nyaman orang lain.
Karena itu jika kita membaca hadis dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulallah bersabda; zakat itu jembatan Islam (HR, Tabrani, abu Darda, dan Baihaqi).
Dalam tugas pengumpulan tidak hanya sekedar mencapai prestasi angka atau menerima sejumlah uang yang diterima sebagai pemabayaran zakat, melainkan Amil dan Amilat dituntut memberikan nilai-nilai kebaikan buat Muzaki.
Nilai-nilai kebaikan yang diberikan oleh seorang Amilin dan Amilat dalam melayani tentulah mendorong pada perubahan bagi Muzaki.
Di bidang pembinaan bagi mustahik, seorang Amilin atau Amilat dapat memberikan dorongan perubahan bagi mustahiknya semula memiliki mind set malas berubah menjadi manusia rajin bekerja yang tidak mudah putus asa.
Mustahik, Muzaki dan Amilin serta Amilat semestinya dengan aktifitas perzakatannya dapat ber-Mi’raj (jembatan) untuk berubah lebih berkah baik di sisi ekonomi maupun di sisi ibadah kepada Sang Khaliknya. Inilah ruh philanthropby Islam pembeda dari philanthrophy- philanthrophy lainnya.
Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan Doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S At-Taubah: 103)
Seorang Amil seyogyanya paham dan hafal serta tahu betul dengan hadist di atas serta memiliki karakter terampil, hatinya bersih dalam menunjang pekerjaan Amil dan Amilat dengan sebaik-baiknya, seperti memiliki hati yang suci/ bersih, senantiasa berpikir positif, jiwanya melayani, memiliki semangat juang dan diniatkan karena Allah SWT semata.
Karakter di atas membantu untuk bersikap tidak mudah iri sehingga selalu berprasangka baik (khusnuzon) kepada setiap Muzaki yang ingin menunaikan zakat kepada BAZNAS, sehingga kadar pelayanan dapat dilakukan secara maksimal.
Setiap Muzaki berhak mendapatkan pelayanan yang terbaik dalam menerima pelayanan dari seorang Amilin atau Amilat. Membuat mereka senang dan bahagia serta tenteram/ tenang hatinya karena telah didoakan oleh Amilin dan Amilat, hal itu merupakan bagian dari sedekah kita.
Di sisi pengumpulan, seorang fundraiser berupaya selalu menyematkan nilai-nilai kebaikan dalam memberikan Layanan bagi Muzaki-nya, service excellent tidak sebatas pada pelayanan namun juga menjadi advisor yang dapat dijadikan teman diskusi sekaligus dapat memberikan literasi tentang perzakatan, dan memberikan konsultasi pembinaan rohani (dakwah) yang menjadikan mereka lebih baik dalam kehidupan religinya.
Sumber Daya Insani mumpuni, memiliki komptensi memadai dalam memberikan doa kepada pata Muzaki akan semakin memberikan rasa senang dan bahagia serta jiwa Muzaki menjadi tentram karena mereka semakin percaya bahwa dana zakat yang telah Ia tunaikan ke Lembaga Amil Zakat yang tepat seperti BAZNAS.
Kepercayaan tidak sebatas pada dana yang diserahkan oleh BAZNAS kepada mustahik tersampaikan, melainkan juga dengan tepat sasaran. Ekosistem yang kondusif seperti di atas haruslah terus terpelihara karena lembaga ini dalam menjalankan kegiatannya didasarkan atas “kepercayaaan.”
Sebagai lembaga yang bergerak di bidang jasa maka reputasi yang terekspresikan pada tingkat “kepercayaan/ trust” merupakan modal utama dalam menjalankan usahanya.
Seperti BAZNAS selain sebagai Organisasi Non Profit (NPO) ia juga diharapkan dapat memberikan pencerahan di bidang kegiatan ekonomi Islam dimana aktifitas zakat ada di dalmnya. BAZNAS harus mampu menjaga ” sustainability”nya dengan memelihara ekosistem yang kondusif seperti di atas.
Dengan kata lain BAZNAS hadir di tengah-tengah umat karena kebermanfaatannya dirasakan oleh shareholder maupun stakeholder.
Mendorong orang-orang kaya untuk sadar berzakat tentulah harus menggunakan cara-cara yang “high touch” menjalankan strategi bauran pemasaran/ Marketing Modern adalah bagian upaya lainnya. Langkah-langkah Fundraiser dalam menjalankan strategi bauran pemasaran modern, meliputi :
People, disini dimaksudkan fungsional produk dan emosional produk. Program tidak hanya diukur dari jenis dan jumlah dana yang dikeluarkan, tapi juga dari story serta dampak social yang tercipta
Price: Transparansi dan dampak sosial menjadi salah satu factor kunci sukses. Dengan penggunaan Digitalisasi akan semakin efisien baik secara proses maupun dari sisi waktu.
Place: Akses strategis ke wilayah prioritas.
Promotion: Komunikasi berbasis fakta dan dampak nyata.
People: Journey muzaki dan Kompetensi Tim
Process: Mendengarkan keluhan dan masukan muzaki.
Terakhir seorang Fundraiser dapat menggunakan metode Physical Evidence sebagai contoh bukti nyata yang dirasakan oleh muzaki (orang wajib zakat) adanya Involvement dan perubahan nyata mustahik (orang berhak zakat) yang terdokumentasi dalam laporan, bukan menjual tangis air mata kesedihan melainkan menjual program dengan menampilkan perubahan menuju harapan kehidupan yang lebih baik bagi mustahik.
Salah satu cara efektif adalah dengan memberikan contoh suri tauladan dari tokoh panutan yang menggambarkan profil kedermawanan sosial, seperti Nabi Muhammad SAW.
Menginfakkan dan mensedekahkan hartanya kepada umat lain yang membutuhkan sudah menjadi gaya hidup keseharian Baginda. Inilah salah satu riwayat yang bisa ditampilkan atas kedermawanan Nabi Muhammad.
Diiwayatkan “Rasulullah SAW juga memberikan emas kepada al-Abbas yang beratnya tidak mampu dibawa oleh pamannya tersebut.
Sebagaimana Rasulullah SAW pernah mendapat uang sejumlah 90.000 dirham (sekitar 200 Milyar rupiah) yang diletakkan di wadah kemudian dibagikan kepada masyarakat, Beliau tidak menjawab orang yang bertanya sampai Beliau selesai membagikan harta tersebut. (Muhammad Ridla, Muhammad Rasulullah 442)
Itulah sosok orang kaya yang memberikan manfaat bagi orabng lain, semoga bermanfaat.
Penulis: Deny Nuryadin, Pimpinan BAZNAS Tangsel. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan