Beritabanten.com – Di tengah teriknya siang yang menyengat kawasan Serpong, Tangerang Selatan, suasana masjid tak pernah benar-benar sepi. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga menjelma ruang rehat yang teduh bagi para pekerja lapangan—dari ojek online, kurir, hingga buruh bangunan—yang mencari jeda sejenak dari rutinitas keras mereka.
Fenomena tidur siang di masjid pun kian jamak ditemui. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar kebiasaan sederhana. Namun bagi para pekerja lapangan, tidur siang di masjid adalah “kemewahan kecil” yang sangat berarti.
Marbot salah satu masjid di kawasan Serpong, Ahmad (45 tahun), mengaku sudah terbiasa melihat pemandangan tersebut setiap hari.
“Biasanya mulai ramai itu setelah Dzuhur. Mereka datang, shalat, lalu istirahat sebentar. Ada yang cuma rebahan, ada juga yang sampai tertidur pulas,” ujar Ahmad saat ditemui, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, masjid memang terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan, selama tetap menjaga adab dan kebersihan. Ia bahkan merasa kehadiran para pekerja itu memberi warna tersendiri bagi kehidupan masjid.
“Selama ini mereka tertib. Justru kita senang, masjid jadi hidup. Ada yang baca Alquran, ada yang dzikir sebelum istirahat,” katanya.
Ahmad menambahkan, pihak pengurus masjid tidak pernah secara khusus mengatur soal tidur siang. Namun, mereka tetap mengimbau agar jamaah tidak terlalu lama beristirahat hingga mengganggu aktivitas ibadah berikutnya.
Fenomena ini juga mencerminkan fungsi sosial masjid yang lebih luas, bukan sekadar tempat ibadah ritual. Di tengah minimnya ruang publik yang ramah dan gratis, masjid menjadi oase yang menawarkan ketenangan sekaligus kenyamanan.
Bagi Rudi (32), seorang pengemudi ojek online, masjid adalah tempat paling ideal untuk “mengisi ulang tenaga”.
“Kalau di luar panas, bising. Di masjid adem, tenang. Habis tidur sebentar, badan jadi segar lagi buat lanjut narik,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Dedi (38), kurir paket yang kerap singgah di masjid saat jeda pengantaran. Ia mengaku waktu istirahatnya tak menentu, sehingga keberadaan masjid sangat membantu.
“Kadang kita nggak punya tempat buat istirahat. Masjid ini jadi penyelamat,” katanya.
Dari sisi kesehatan, tidur siang singkat atau power nap memang dikenal memiliki manfaat, seperti meningkatkan konsentrasi, mengurangi kelelahan, hingga menjaga suasana hati. Bagi pekerja dengan mobilitas tinggi, jeda singkat ini bisa menjadi penopang produktivitas.
Ahmad berharap, keberadaan masjid tetap bisa menjadi ruang yang inklusif bagi semua kalangan.
“Masjid itu rumah bersama. Siapa pun boleh datang, selama niatnya baik dan tetap menjaga aturan,” tuturnya.
Di tengah hiruk-pikuk kota satelit seperti Tangerang Selatan, masjid tak hanya menjadi tempat bersujud, tetapi juga ruang kemanusiaan—tempat orang-orang bernaung, beristirahat, dan kembali menguatkan diri untuk melanjutkan perjalanan hidup. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan