Beritabanten.com – Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang menyebut rezim Iran sebagai pihak yang terobsesi dengan “prophetic Islamist delusions” kembali memicu perdebatan luas di kalangan pengamat geopolitik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Pentagon ketika pemerintah Amerika Serikat menjelaskan sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran.

Dalam pernyataan itu, Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Namun, penggunaan istilah yang mengaitkan ancaman keamanan dengan keyakinan religius segera memunculkan kritik dari sejumlah analis hubungan internasional yang menilai retorika tersebut terlalu ideologis.

Bagi sebagian pengamat, frasa seperti “prophetic Islamist delusions” mencerminkan cara pandang lama dalam politik keamanan Barat yang sering melihat dunia Islam melalui lensa kecurigaan ideologis. Dalam perspektif ini, Islam politik kerap dipersepsikan bukan sekadar fenomena politik regional, tetapi sebagai ancaman peradaban terhadap tatanan global yang dipimpin Barat.

Cara pandang tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Sejak peristiwa 11 September 2001, wacana keamanan di Barat banyak dipengaruhi oleh narasi perang melawan terorisme yang seringkali beririsan dengan identitas Islam. Akibatnya, sebagian elite keamanan di Barat cenderung memandang negara atau gerakan politik yang membawa simbol keagamaan sebagai aktor yang lebih sulit diprediksi.

Kritik terhadap retorika semacam ini juga datang dari kalangan akademisi yang menilai bahwa penggunaan istilah bernuansa religius dalam konflik geopolitik berpotensi memperdalam sentimen Islamofobia di tingkat global. Selain memperkeruh hubungan diplomatik, bahasa semacam itu juga dapat memperkuat narasi benturan peradaban antara Barat dan dunia Muslim.

Di sisi lain, para pendukung kebijakan keras terhadap Iran berpendapat bahwa kekhawatiran terhadap program nuklir Teheran tetap memiliki dasar keamanan yang kuat. Mereka menilai kombinasi antara kemampuan militer dan ideologi negara dapat meningkatkan risiko konflik regional.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa dalam geopolitik modern, bahasa yang digunakan oleh pejabat tinggi negara tidak hanya berfungsi sebagai retorika politik, tetapi juga membentuk cara dunia memahami konflik. Pilihan kata dapat menentukan apakah sebuah konflik dipersepsikan sebagai persoalan keamanan strategis semata atau sebagai pertarungan identitas dan ideologi antara kekuatan global. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com