Beritabanten.com – Di balik rimbunnya tajuk pohon mangga, ada satu fase yang sering terlewatkan oleh mata awam: mekarnya bunga mangga. Rangkaian bunga kecil berwarna putih kekuningan itu mungkin tampak sederhana, bahkan nyaris tak mencolok.

Namun bagi petani dan pecinta tanaman, fase ini adalah awal dari sebuah harapan panjang—janji akan panen buah mangga yang manis di masa mendatang.

Musim berbunga mangga di Indonesia umumnya terjadi pada peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sekitar bulan Juni hingga Agustus, meski waktu pastinya dapat berbeda tergantung varietas dan kondisi iklim setempat.

Saat itulah, ujung-ujung ranting pohon dipenuhi malai bunga yang tumbuh bergerombol. Dalam satu tangkai, bisa terdapat ratusan hingga ribuan kuntum bunga kecil.

Aroma bunga mangga yang lembut sering kali tercium samar di udara, terutama pada pagi dan sore hari. Keharumannya mengundang berbagai serangga penyerbuk seperti lebah, lalat, dan kupu-kupu.

Mereka berperan penting dalam proses penyerbukan, memindahkan serbuk sari dari satu bunga ke bunga lainnya. Tanpa bantuan mereka, peluang terbentuknya buah akan jauh berkurang.

Menariknya, tidak semua bunga mangga akan menjadi buah. Dari ribuan bunga yang bermekaran, hanya sekitar 1–5 persen yang berhasil berkembang menjadi buah mangga.

Sebagian besar akan gugur secara alami. Fenomena ini merupakan mekanisme seleksi alami tanaman untuk mempertahankan hanya buah yang mampu tumbuh dengan baik.

Sekitar 1–2 minggu setelah bunga mekar, bunga yang berhasil dibuahi akan mulai menunjukkan perubahan. Putik berkembang menjadi bakal buah kecil berwarna hijau.

Pada fase ini, pohon mangga masih rentan terhadap gangguan, seperti hujan deras, angin kencang, atau serangan hama dan penyakit yang bisa menyebabkan rontoknya bakal buah.

Memasuki usia 1 bulan setelah pembungaan, buah mangga mulai terlihat jelas meski ukurannya masih kecil. Kulitnya hijau muda dan teksturnya keras.

Petani biasanya mulai melakukan perawatan intensif, seperti pemupukan tambahan dan pengendalian hama, untuk memastikan buah tumbuh optimal.

Perjalanan dari bunga hingga buah matang membutuhkan waktu sekitar 90 hingga 150 hari (3 hingga 5 bulan), tergantung varietas mangga dan kondisi lingkungan.

Misalnya, beberapa jenis mangga lokal bisa dipanen lebih cepat, sementara varietas unggul tertentu memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai tingkat kematangan yang sempurna.

Ciri-ciri buah mangga yang siap dipetik antara lain:

  • Ukuran buah sudah maksimal sesuai varietasnya
  • Warna kulit mulai berubah, dari hijau tua menjadi hijau kekuningan atau kemerahan (tergantung jenisnya)
  • Aroma harum mulai tercium, meski masih di pohon
  • Tangkai buah terlihat mulai mengering
    Jika diketuk pelan, terdengar bunyi agak padat namun tidak terlalu keras

Petani berpengalaman biasanya tidak hanya mengandalkan tampilan visual, tetapi juga menghitung umur buah sejak bunga mekar. T

Teknik ini membantu menentukan waktu panen yang tepat agar kualitas rasa tetap terjaga, terutama untuk kebutuhan distribusi jarak jauh.

Panen mangga umumnya dilakukan dengan cara dipetik langsung menggunakan alat khusus agar buah tidak jatuh dan rusak.

Buah yang dipanen pada tingkat kematangan yang tepat akan memiliki rasa yang lebih manis, tekstur yang lembut, dan daya simpan yang lebih baik.

Namun perjalanan dari bunga ke buah tidak selalu mulus. Perubahan iklim yang tidak menentu, seperti hujan di luar musim atau suhu ekstrem, dapat mengganggu proses pembungaan dan pembuahan. Selain itu, hama seperti lalat buah juga menjadi ancaman serius yang dapat merusak hasil panen.

Meski demikian, setiap kali bunga mangga bermekaran, harapan selalu tumbuh kembali. Bagi banyak orang di pedesaan, aroma bunga mangga bukan sekadar wangi musiman, melainkan penanda siklus kehidupan yakni kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bahwa hasil baik akan datang pada waktunya.

Pada akhirnya, ketika buah mangga matang tergantung lebat di dahan, sedikit yang mengingat bahwa semua itu bermula dari bunga-bunga kecil yang dulu bermekaran diam-diam. Dari sanalah cerita panjang dimulai dari harum yang sederhana, menuju manisnya hasil yang dinanti.(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com