Beritabanten.com — Tak cuma bicara bantuan sosial, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mulai memainkan peran strategis di sektor pangan. Lewat program Balai Ternak, lembaga ini serius membangun kemandirian ekonomi umat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Langkah konkret itu terlihat di Desa Pagutan, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Di lokasi ini, BAZNAS menghadirkan Balai Ternak yang menjadi titik ke-59 dari total 70 lokasi yang dikembangkan di seluruh Indonesia.
Ketua Badan Amil Zakat Nasional, Sodik Mudjahid, memastikan program ini bukan sekadar formalitas atau laporan di atas kertas.
“Kami ingin program ini benar-benar berdampak. Bukan hanya terlihat bagus di laporan, tapi nyata dirasakan masyarakat. Dan di sini, saya pastikan manfaatnya ada,” tegasnya saat meninjau langsung lokasi, Kamis (23/4).
Balai Ternak ini melibatkan 30 peternak dari kalangan mustahik. Total ada 57 ekor sapi Bali yang dikelola, terdiri dari pejantan, indukan, hingga bakalan jantan.
Tak main-main, total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp806 juta, dengan rata-rata Rp26,8 juta per peternak.

Dari Kandang ke Kantong
Program ini dirancang bukan sekadar memberi ternak, tapi membangun ekosistem peternakan terintegrasi. Mulai dari kandang, rumah pakan, rumah kompos, hingga sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Hasilnya mulai terasa. Para peternak kini bisa mengantongi tambahan penghasilan antara Rp2 juta hingga Rp4 juta per bulan.
Tak berhenti di situ, potensi ekonomi juga datang dari pengolahan kompos dan akses pasar yang semakin terbuka.
Artinya, program ini bukan hanya menghidupi tapi juga mengembangkan.
Sodik Mudjahid menegaskan, BAZNAS tak akan berhenti di satu titik. Evaluasi terus dilakukan untuk memastikan program berjalan efektif dan bisa direplikasi di daerah lain.
NTB sendiri disebut masih punya peluang besar untuk penambahan lokasi Balai Ternak ke depan.
“Kita ukur dari dampak ekonominya. Kalau berkembang, pasti kita tambah,” ujarnya.
BAZNAS juga membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya, baik dengan pemerintah daerah maupun sektor lain, untuk memperluas akses pasar dan mendukung program nasional di bidang pangan dan gizi.
Dalam kegiatan ini, turut hadir sejumlah tokoh, di antaranya Syarifuddin, Haerul Warisin, hingga Hamdan Zoelva.
Dengan langkah ini, BAZNAS mengirim pesan jelas: zakat tak lagi sekadar bantuan konsumtif. Jika dikelola serius, ia bisa menjadi motor penggerak ekonomi—bahkan penopang ketahanan pangan nasional. Tinggal konsistensi, apakah program seperti ini bisa terus dijaga dan diperluas. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan