TANPA dinyana, tumben-tumben lagi nyeleneh, sebelum dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Kertanegara, Prof. Nasaruddin Umar, sempat WA ke saya minta didoain sekaligus mengkonfirmasikan sedang berada di Mesir dan Saudi.

Setelah beliau dipanggil Presiden Prabowo ke Kertanegara, entah apa yang ada dalam hati dan pikiran serta alasannya, secara spesifik, teman saya asal Bugis, Ustadz Abdul Basir dari Kepri, Qari’ dan Dewan Hakim Nasional.

Dirinya meminta saya menulis tentang Prof KH. Nasaruddin Umar, M.A. Imam Besar Masjid Istiqlal dan Rektor Universitas PTIQ yang kini menjabat sebagai Menteri Agama (Menag) RI itu.

Spontan kenangan dan pikiran saya langsung terbang jauh ke era 90-an saat pertama kali saya berjumpa Menag Nasaruddin yang masih muda belia, menyampaikan ceramah di kediaman Paman (mertua), Kang Fuadi (Alm), Direktur PT. Adhi Karya di bilangan Cepete Jakarta Selatan.

Dari ceramahnya, saya menilai agak berbeda gaya, style dan pemikirannya dibandingkan dengan ulama dan intelektual Bugis lainnya.

Saya memprediksikan pada saatnya nanti, beliau akan menjadi orang penting dalam skala nasional dan internasional.

Saya sendiri heran bin tidak paham, begitu beliau dipanggil ada beberapa pihak yang resisten dan entah kenapa pula meminta saya mengkomunikasikan ke Presiden Prabowo Subianto sebelum ditetapkan sebagai Menag RI.

Tentu saja saya bingung karena sedikit banyak saya dapat informasi valid terkait posisi tersebut dengan berbagai spekulasi dan pressure politik tingkat tinggi dan global.

Walau sebelum resmi diumumkan definitif sebagai Menag RI, secara pribadi saya telah mengucapkan Selamat terlebih dahulu kepada Prof Nasar.

Sedikit saya tahu latar belakang pendidikan pesantren Prof. Nasaruddin di As’adiyah Sengkang Sulawesi Selatan (sekarang sebagai Ketua Yayasan) yang sangat terkenal itu. Satu almamater dengan Prof Darwis Hude (Senior) dan Prof Kamaruddin Amin.

Kebetulan saya pernah berkunjung ke sana sebagai Pemimpin Rombongan (setelah mendapat perintah dan restu dari Rektor IIQ, Bapak Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML) “Rihlah Ilmiah” Mahasiswa PTIQ/IIQ asal Sulawesi Selatan tahun 1990.

Beberapa catatan penting Interaksi saya dengan Prof. Nasar di tengah-tengah aktivitas dan kesibukan yang kiranya menarik dikatakan antara lain :

Ketika Pak Nasar menjadi Dirjend Bimas Islam dan Wakil Menteri Agama di era SBY. Setiap ketemu dengan santun sambil menepuk-nepuk pundak saya, selalu mendorong agar terus belajar, meningkatkan kualitas intelektualitas sampai meraih puncak capaian gelar akademis. Di samping ekspektasi sebagai Rektor, beliau pernah berkata; “sudah saatnya nanti yang menjadi Rektor PTIQ berasal dari alumni sendiri,” itu yang Pertama.

Kedua, dalam sebuah moment Open House Idul Fitri di rumah dinas Menteri Agama Widya Chandra, ketika saya mau pamit, Prof. Nasar langsung menahan saya agar tidak pulang dulu, karena masih kangen dan ada sesuatu yang mau diungkapkan. Terasa ada sebuah kesan khusus yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Ketiga, yang tak kalah mengesankan sekaligus membanggakan adalah pertemuan di Kuala Lumpur Malaysia 2006, saat saya ditunjuk sebagai Dewan Hakim MTQ Internasional di MABIN. Ketika itu dapat berkumpul bersama Pejabat Teras Kemenag, termasuk Prof. Nasar sebagai Dirjend Bimas Islam di samping Sekjen Pak Bahrul Hayat dan lainnya.

Keempat, rasanya saya perlu menginformasikan sesuatu yang tak kalah menarik yang mungkin tak banyak yang tahu. Dalam pertemuan saya dengan Kepala Biro Pers & Media Presiden di Bina Graha, Brigjend (Purn) Drs.H. DJ.Nachrowi, menginfokan, bahwa yang akan menjadi Menteri Agama di era SBY ke 2, 2009-2014 adalah Prof Nasar. Pak DJ. Nachrowi sendiri direncanakan sebagai Irjend yang telah diminta oleh Prof Nasar sudah menyiapkan konsep Struktur dan Personalia Kemenag. Sedang saya sendiri diplot sebagai Staf Khusus. Namun last minute, terjadi perubahan karena yang diangkat sebagai Menteri Agama adalah Surya Darma Ali yang biasa dipanggil SDA.

Kelima, diketahui bahwa Prof Nasar sebagai orang Sulawesi Selatan kedua yang menjadi Menteri Agama setelah Prof.Quraish Shihab di akhir era Orde Baru. Ada beberapa Tokoh Sulawesi Selatan sebagai Tokoh Nasional terkenal dan cukup menonjol di antaranya Pak Jusuf Kalla, Abuya Prof.KH.Aly Yafie (Alm), Prof.Quraish Shihab dan Prof.Nasaruddin.

Keenam, terkait pemikiran, Abuya KH.Aly Yafie pada sebuah kesempatan menyampaikan kepada saya bahwa Prof Quraish Shihab, dengan Tafsir Al-Misbah-nya beraliran Syi’ah. Sementara Prof Nasar adalah Sangat Liberal. Saya sendiri merasa terkejut dengan penilaian tersebut.

Yang jelas akhir-akhir ini, interaksi saya dengan Prof. Nasar lebih sering terjadi pada event MTQ Nasional dan Pengajian Proklamasi 36 (Pendirinya Bapak H.Alamsyah Ratu Perwiranegara). Beliau yang Ceramah, saya sebagai Imam. Adapun pada MTQ Nasional,

Beliau sebagai Ketua Dewan Pengawas dan saya sebagai Dewan Hakim (Ketua Majelis MTQ Nasional XXX 2024 Samarinda). Pada MTQ Nasional 2018 di Medan, saya pernah tugas bersama Beliau di Dewan Pengawas.

Ketujuh, dari sekian interaksi dengan Prof.Nasar saya melihat Beliau sosok yang sederhana, bersahaja, humbel, lemah lembut, santun, sejuk, egaliter dan familier. Hal ini agak berbeda dengan kebanyakan mereka yang berasal dari Kawasan Timur.

Mirip Gus Dur

Abuya KH Alie Yafi pernah menuturkan pemikiran Prof Nasar sangat liberal yang mungkin lebih cenderung ke konsep Mutazilah yang serba rasional. Sedang dari aspek Ibadah sepertinya, lebih kepada aliran Tasawuf sehingga Beliau juga dikenal sebagai Sufi.

Hal ini bisa terjadi, setahu saya karena Beliau termasuk salah seorang Santri Syekhul Akbar Termasyhur Dunia, KH.Tajul Arifin Sahibul Wafa yg lebih familiar dipanggil Abah Anom, Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah dari Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.

Tidak berlebihan apabila saya berpendapat pemikiran Beliau agak mirip dengan Gus Dur yang sekilas agak ‘Nyeleneh’ yang mungkin sulit difahami oleh orang awam. Atau terinspirasi oleh Sosok Prof Dr Harun Nasution, perpaduan rasional dan tasawuf modern (Sufistis).

Mungkin dari aspek ini, yang membuat sebagian masyarakat kuatir, apalagi muncul di saat masih hangatnya permasalahan yang terkait dengan peranan Amerika dan Israel.

Namun sebelumnya, saya meminta kepada teman-teman Alumni Senior PTIQ (As-Sabiqun Al-Awwalun, 1971-1980) utamanya, sebijaknya tidak langsung ikut-ikutan latah menuduh, memvonis atau menjudge beliau seperti masyarakat kebanyakan.

Maka dalam pertemuan Silaturrahim Alumni PTIQ (IKA-PTIQ) yang dinakhodai oleh Pak Dr. Jazilul Fawaid, saya termasuk yang mengusulkan sebagai ‘Forum Tabayyun”, bukan pengadilan apalagi pembantaian yang justru jauh dari akhlak Al-Qur’an yang selalu dijadikan Slogan Ahlul Qur’an seperti PTIQ.

Bahkan akhirnya kita semua harus bersyukur dengan dipercayanya Prof Nasar sebagai Menag RI oleh Presiden Prabowo Subianto.

Bak kata pepatah “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Saya mengimbau teman-teman, untuk bersatu, solid, bersama-sama mengawal Bapak Menteri Agama agar selalu ISTIQAMAH(الاستقامة خير* من الف كرامة) dalam kerangka “Tawasha Bilhaq, Tawashau Bishshabr”.

Mari kita berdoa agar Beliau senantiasa mendapat kucuran Rahmat, Berkah dan Ridha Allah sehingga sukses mengemban amanah. Amin Ya Mujibas Sailin. Amiiin. (***)

Penulis: Moersjied Qorie Indra, Direktur Qur’an Center Bintaro Tangerang Selatan.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com