Beritabanten.com – Ada orang bekerja dengan data, ada yang bekerja dengan kebijakan dan ada pula yang bekerja dengan gema suara sendiri.
Dalam kategori terakhir ini, nama Prabowo Subianto sering muncul seperti notifikasi yang tak pernah dimatikan.
Setiap pekan, publik disuguhi pidato yang nadanya heroik, gesturnya tegas, dan volumenya cukup untuk menggetarkan mikrofon.
Masalahnya, setelah gema terakhir menghilang dan tepuk tangan mereda, rakyat sering bertanya pelan-pelan: “Tadi isinya apa, ya?” Seolah-olah kita baru saja menonton trailer film epik berdurasi dua jam—tanpa pernah ada filmnya.
Pidato demi pidato mengalir seperti sinetron tanpa episode terakhir.
Selalu ada janji besar, istilah megah, dan kalimat-kalimat penuh semangat. “Kita akan!”, “Harus!”, “Tidak boleh!”—kata kerja yang berdiri tegak seperti tentara apel pagi.
Sayangnya, realitas di lapangan sering tetap santai, duduk selonjor, tidak merasa perlu ikut berdiri.
Ada yang bilang ini gaya komunikasi kepemimpinan: membakar semangat, memompa optimisme.
Tapi kalau yang dipompa cuma udara, lama-lama balonnya mengempis sendiri.
Rakyat bukan kurang semangat; rakyat cuma ingin tahu kapan pidato berubah jadi keputusan konkret, dan kapan keputusan berubah jadi hasil yang bisa dirasakan—bukan sekadar dirasakan getaran suaranya.
Lucunya, setiap kritik muncul, jawabannya kembali ke panggung.
Bukannya laporan capaian yang detail, yang keluar justru pidato lagi—lebih panjang, lebih lantang, lebih dramatis. Seolah masalah bangsa bisa mundur teratur hanya karena ditegur dengan intonasi bariton.
Bayangkan jika setiap masalah ekonomi cukup diselesaikan dengan metafora. Inflasi? Ditekan dengan analogi. Pengangguran? Diatasi dengan perumpamaan. Utang negara? Dilunasi dengan retorika patriotik.
Kalau begitu, kementerian keuangan mungkin sudah bisa diganti dengan tim MC profesional.
Satirnya di sini sederhana: negara modern tidak kekurangan kata-kata. Yang sering kurang adalah konsistensi, transparansi, dan keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu populer.
Pidato adalah pembuka pintu. Tapi kalau pintunya terus dibuka tanpa pernah ada yang benar-benar masuk dan bekerja di dalam ruangan, lama-lama orang akan sadar bahwa itu cuma angin yang lewat.
Barangkali yang dibutuhkan bukan lagi pidato yang membakar, melainkan laporan yang membumi.
Bukan lagi retorika tentang masa depan gemilang, tetapi jadwal kerja yang jelas, target terukur, dan evaluasi yang jujur..
Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa keras seseorang berbicara—melainkan seberapa nyata dampaknya.
Dan rakyat, seperti biasa, punya selera humor yang panjang. Mereka bisa tertawa, bisa menyindir, bahkan bisa menikmati dramanya.
Tapi mereka juga punya ingatan. Dan ingatan publik sering lebih tajam daripada mikrofon mana pun. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan