Beritabanten.com – Sebanyak 145 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, mengalami gejala muntaber yang meliputi diare, mual, muntah, dan demam. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel kini menelusuri kemungkinan sumber penularan setelah muncul laporan mengenai kondisi air yang keruh di lingkungan perumahan tersebut.

Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui faktor yang memicu peningkatan kasus gangguan pencernaan di kawasan itu. Temuan bakteri Escherichia coli (E. coli) turut menjadi perhatian petugas, meski sumber kontaminasi dan kaitannya dengan kejadian tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel, Fitria Oriza, mengatakan pihaknya pertama kali menerima informasi mengenai perubahan kondisi air pada 16 September 2026. Laporan itu disampaikan oleh kader kesehatan yang bertugas di wilayah Perumahan Serpong Lagoon.

Menindaklanjuti aduan tersebut, petugas Puskesmas Keranggan mengambil tiga sampel air untuk diperiksa. Sampel pertama dan kedua berasal dari rumah warga di Blok A dan Blok B1, sementara sampel lainnya diambil dari toren instalasi pengolahan air (IPA) milik PT Arfa Putra Soegama, perusahaan penyedia air bagi penghuni perumahan.

Keluhan Warga Meningkat dalam Beberapa Hari

Laporan mengenai warga yang mengalami gangguan kesehatan mulai diterima pada 7 Oktober 2026 sekitar pukul 20.00 WIB. Sejumlah warga dilaporkan mengalami demam, diare, mual, dan muntah. Keluhan serupa muncul hampir bersamaan di beberapa rukun tetangga (RT).

Sehari kemudian, jumlah warga yang mengalami gejala tersebut tercatat sebanyak 27 orang. Puskesmas Keranggan melakukan verifikasi awal sebelum meneruskan laporan kepada Dinkes Tangsel untuk penanganan lebih lanjut.

Dalam perkembangan berikutnya, jumlah warga yang terdampak terus bertambah. Data yang dihimpun pada tahap awal penyelidikan mencatat 137 orang mengalami keluhan serupa, dengan 58 orang masuk dalam daftar pasien rujukan Puskesmas Keranggan.

Pada 16 Oktober 2026, Dinkes Tangsel bersama petugas puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi dengan mendatangi rumah warga, mewawancarai pasien, serta mengumpulkan informasi melalui kuesioner daring. Petugas juga memberikan pengobatan kepada warga yang membutuhkan penanganan medis.

Jumlah warga yang dilaporkan mengalami gejala muntaber kemudian mencapai 145 orang. Sebagian pasien masih memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan, termasuk anak-anak yang dilaporkan menjalani rawat inap di Eka Hospital.

Anak-Anak Turut Terdampak

Data Dinkes Tangsel menunjukkan gangguan kesehatan tersebut dialami warga dari berbagai kelompok usia. Sebanyak 35 pasien berusia di bawah lima tahun, sedangkan 20 pasien lainnya berada dalam rentang usia 5–17 tahun. Selain itu, terdapat 13 pasien dewasa dalam data kelompok pasien yang dirinci berdasarkan usia.

Dari sisi jenis kelamin, perempuan tercatat menyumbang 64,7% dari pasien, sementara laki-laki mencapai 35,3%.

Besarnya jumlah warga yang mengalami keluhan serupa mendorong petugas untuk menelusuri kemungkinan faktor risiko yang sama di lingkungan perumahan. Pemeriksaan sampel air dan hasil penyelidikan epidemiologi menjadi bagian penting untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kualitas air yang dilaporkan warga dan kejadian gangguan kesehatan tersebut.

Di lokasi yang sama, perwakilan PT Arfa Putra Soegama menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan air serta Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan beserta jajaran pemerintah daerah. Perusahaan juga menyatakan akan melakukan perbaikan teknis.

Hingga penyebab pasti kejadian tersebut diketahui, warga diimbau memperhatikan kebersihan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan petugas diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai sumber masalah sekaligus menjadi dasar penentuan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. (Adv)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com