Kegiatan ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Betawi sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
Festival tersebut tidak hanya menghadirkan kompetisi antarpelajar, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran untuk memperkenalkan bahasa ibu secara kreatif dan menyenangkan. Melalui berbagai cabang perlombaan, siswa didorong untuk lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa daerah, baik melalui tuturan maupun karya sastra.
Kepala Seksi Peserta Didik jenjang SD sekaligus Ketua Panitia FTBI, Satiyan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pelestarian bahasa daerah melalui lingkungan pendidikan.
Ia menjelaskan, FTBI merupakan program yang digagas Kantor Bahasa Provinsi Banten di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Pelaksanaannya di daerah diharapkan dapat memperluas keterlibatan sekolah dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu sejak usia dini.
“Alhamdulillah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, khususnya jenjang SD, menyelenggarakan kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu yang digagas oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten di bawah naungan Kemendikdasmen,” ujar Satiyan.
Menurutnya, meskipun kegiatan FTBI telah diselenggarakan setiap tahun, pelaksanaan tahun ini menjadi momentum bagi Kota Tangerang Selatan untuk menggelar seleksi secara terbuka bagi siswa jenjang sekolah dasar.
Dalam pelaksanaannya, terdapat delapan cabang perlombaan yang mengangkat kemampuan berbahasa dan bersastra menggunakan bahasa Betawi. Cabang tersebut meliputi mendongeng, pidato, menulis dan membaca puisi, menyanyikan lagu daerah, menulis cerita pendek, melawak tunggal, serta berbalas pantun.
Berbagai kategori tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan bakat sekaligus mengembangkan kreativitas dalam menggunakan bahasa daerah. Selain mengasah keterampilan berbahasa, perlombaan juga melatih keberanian, kemampuan berekspresi, dan kepercayaan diri siswa saat tampil di hadapan publik.
Pelestarian Bahasa Dimulai dari Lingkungan Pendidikan
Upaya menjaga keberadaan bahasa daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, tenaga pendidik, hingga keluarga. Sekolah memiliki peran strategis dalam memperkenalkan bahasa Betawi kepada siswa melalui kegiatan pembelajaran dan aktivitas kebudayaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pengenalan bahasa ibu sejak jenjang pendidikan dasar juga dapat membantu anak memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat, pantun, puisi, dan tradisi lisan. Dengan cara tersebut, pembelajaran bahasa daerah tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara, tetapi turut memperkenalkan sejarah dan identitas masyarakat yang melahirkannya.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi, penggunaan bahasa daerah menghadapi tantangan tersendiri. Karena itu, diperlukan pendekatan yang menarik agar generasi muda tetap memiliki ketertarikan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa Betawi, termasuk melalui perlombaan, pertunjukan seni, serta kegiatan literasi berbasis budaya lokal.
Festival Tunas Bahasa Ibu dapat menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pendidikan dengan pelestarian kebudayaan. Kreativitas siswa dalam mendongeng, berpantun, menulis cerita, dan menampilkan karya sastra daerah diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang berkesan sekaligus memperkuat hubungan generasi muda dengan warisan budaya mereka.
Satiyan berharap pelaksanaan FTBI dapat meningkatkan ketertarikan pelajar terhadap bahasa Betawi sehingga penggunaannya tidak terbatas pada kegiatan perlombaan, tetapi juga terus berkembang dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Tangerang Selatan diharapkan dapat memperkuat peran sekolah sebagai salah satu ruang penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Pengenalan bahasa ibu sejak dini menjadi langkah strategis agar generasi muda tetap mengenal identitas budaya daerahnya di tengah perkembangan zaman.
Festival Tunas Bahasa Ibu pun diharapkan mampu melahirkan pelajar berprestasi sekaligus generasi penerus yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa dan sastra daerah sebagai bagian dari warisan budaya bangsa. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan