Beritabanten.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) gelontorkan beasiswa senilai 50.000 Euro bagi mahasiswa terdampak banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Penyerahan bantuan dilakukan di Kantor Sekretariat APINDO di Jakarta pada hari ini, Jumat 30 Januari 2026.
Melalui koordinasi Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APINDO, program ini menyasar mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Universitas Andalas (Unand) Padang, dan Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh.
Ketiganya sampai kini belum bisa beroperasi maksimal pasca banjir bandang dan tanah longsor merusak fasilitas perkuliahan.
Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani menegaskan bahwa keberlanjutan pendidikan harus menjadi prioritas bersama, termasuk dalam situasi krisis akibat bencana.
Menurut Shinta, pendidikan tidak boleh terhenti karena bencana dan di tengah kondisi sulit, korban terdampak bencana tetap berhak mendapatkan akses belajar sebagai bekal masa depan mereka.

Komitmen Nyata Dunia Usaha
Ia menambahkan bahwa kolaborasi APINDO dan Coca-Cola mencerminkan komitmen nyata dunia usaha untuk berperan aktif dalam pemulihan sosial.
“Kolaborasi ini merupakan wujud tanggung jawab sosial dunia usaha untuk hadir di saat masyarakat paling membutuhkan, sekaligus memperkuat sinergi antara sektor swasta dan masyarakat dalam membangun ketahanan pasca bencana,” ujar Shinta.
Direktur Public Afairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia, Lucia Karina menyampaikan bahwa program beasiswa ini merupakan bagian dari komitmen CCEP Indonesia dalam mendukung pemulihan sosial pasca bencana, khususnya di sektor pendidikan.
“Pendidikan merupakan salah satu kunci utama dalam membangun ketahanan masyarakat pasca bencana. Melalui program beasiswa ini, kami berharap dapat membantu meringankan beban mahasiswa dan keluarga mereka, sekaligus memastikan mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan,” ujar Karina.
Karina menambahkan bahwa dukungan terhadap sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi pemulihan masyarakat.
Oleh karena itu, bantuan ini tidak hanya dipandang sebagai tanggap darurat, tetapi juga sebagai bagian dari kontribusi berkelanjutan dunia usaha dalam mendukung pemulihan dan pembangunan di wilayah terdampak.
Pada kesempatan yang sama, CCEP Indonesia juga menyalurkan bantuan 222 unit mesin filter air bagi masyarakat terdampak bencana.
Bantuan ini nantinya akan didistribusikan melalui ketiga perguruan tinggi penerima bantuan beasiswa serta melalui Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (Yayasan HaKa).
Inisiatif ini bertujuan untuk membantu memulihkan akses terhadap air bersih dan air minum yang aman di wilayah yang terdampak banjir dan longsor.
Karina menekankan bahwa pemulihan pasca bencana tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan kebutuhan dasar, terutama akses air minum yang layak.

Apresiasi Perguruan Tinggi
Sementara itu, Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Universitas Syiah Kuala Mustanir, menyampaikan apresiasinya atas dukungan beasiswa bagi mahasiswa terdampak bencana di Aceh.
“Bencana tidak hanya berdampak pada infrastruktur dan perekonomian masyarakat, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan studi mahasiswa. Beasiswa ini memberikan ruang bagi mahasiswa kami untuk tetap melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang dan fokus,” ujarnya.
Adapun Rektor UNAND Efa Yonnedi, menilai kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi sangat penting dalam menjaga ketahanan pendidikan pasca bencana.
“Pemulihan tidak hanya menyangkut infrastruktur fisik, tetapi juga keberlanjutan pendidikan dan masa depan generasi muda. Beasiswa ini memberikan harapan dan kepastian bagi mahasiswa terdampak di UNAND. Kami mengapresiasi kolaborasi CCEP Indonesia dan APINDO yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap pemulihan sosial jangka panjang,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh Wakil Rektor 3 Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Universitas Sumatra Utara Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.
Dirinya menyampaikan, kolaborasi dengan dunia usaha menjadi salah satu bentuk dukungan penting dalam menjaga akses pendidikan bagi mahasiswa terdampak bencana.
“Kami mengapresiasi inisiatif CCEP Indonesia yang memberikan perhatian pada sektor pendidikan pasca bencana. Bantuan ini tidak hanya meringankan beban mahasiswa secara finansial, tetapi juga memberikan motivasi moral bagi mereka untuk terus berprestasi,” ucap Poppy.
Sebagai informasi, data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) per Desember 2025, bencana menyebabkan 18.824 mahasiswa di 60 perguruan tinggi tidak bisa melanjutkan perkuliahan akibat ekonomi keluarga lumpuh. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan